KETELA atau singkong, banyak dikenal sebagai sumber karbohidrat yang bisa diolah manjadi berbagai bentuk penganan. Namun siapa sangka, singkong yang biasa digunakan sebagai bahan utama getuk lindri itu juga bisa diolah menjadi sumber bahan bakar pengganti bensin (bioetanol). Namun, singkong ini tidak bisa langsung serta merta digunakan sebagai campuran atau pengganti bensin. Perlu proses atau fermentasi yang cukup panjang, hingga mengubah sari singkong tersebut menjadi sebuah cairan yang mampu menggerakkan mesin mobil, motor atau berbagai jenis mesin lainnya.
Dan siapa sangka, bahan bakar yang disebut bioetanol ini justru mampu menandingi kemampuan bensin, dan dipastikan lebih efisien serta ramah lingkungan. Kemampuan sari pati singkong ini pun dibuktikan dengan diujicobanya enam mobil dari Jakarta-Surabaya, Senin hingga Rabu (26/5) besok.
Uji coba energi terbaru yang mengusung bendera Ekspedisi Bahan Bakar Singkong (BBS) ini mampir di sejumlah kota, di antaranya Pekalongan dan Semarang. Enam unit mobil dari berbagi jenis teknologi digunakan untuk menguji efisiensi bahan bakar yang dikembangkan oleh S Adibrata, Direktur PT Energi Karya Madani tersebut.
Penggunaan singkong sebagai bahan bakar kendaraan ini merupakan hasil penemuan S Adibrata, yang kemudian dibantu proses produksinya oleh KNMI (Komite Nasional Masyarakat Indonesia). Penelitian sudah dilangsungkan selama empat tahun dan telah diuji coba pada 1.200 kendaraan bermotor dengan hasil yang memuaskan.
Tim ekspedisi tersebut semalam singgah di Kantor Redaksi Koran Sore Wawasan dan menunjukkan keunggulan serta rahasia di balik penemuan tersebut. Tim yang berangkat dari Jakarta pukul 11.00, tadi malam pukul 22.45 sampai ke Wawasan dan diterima Pemimpin Redaksi Sriyanto Saputro.
Adibrata mengakui bahwa untuk menciptakan satu liter bioetanol hanya dibutuhkan enam kilo singkong dengan harga per kilonya hanya sekitar Rp 400.
"Bayangkan satu hektare lahan ditanami 4.000 batang pohon singkong yang minimal bisa produksi 200 ton biopremium. Jadi modal Rp 25 juta bisa mendapat laba Rp 55 juta, itu sebelum pajak," ujarnya.
Ia memaparkan, bahan bakar etanol diproses dari singkong yang direkayasa yang diubah menjadi tepung. Hasil fermentasi singkong yang kemudian diberi enzim diolah menjadi gula merah. Hasil air dari gula merah cair kemudian diolah lagi menjadi etanol rendah 30 persen. Proses ini dilanjutkan lagi hingga mendapatkan etanol 96-99 persen.
Tempuh 14 km
Dia memastikan satu liter etanol bisa menempuh jarak hingga lebih 14 km. Bahkan dalam uji coba pada mobil dari teknologi lama hingga mobil dengan teknologi terbaru juga menunjukkan efisiensi bahan bakar tersebut dibandingkan premium.
Ia memperbandingkan semisal untuk mobil keluaran tahun 90-an satu liter bioetanol mampu menempuh jarak hingga 17 km, sedangkan menggunakan premium satu liter hanya digunakan untuk melaju hingga 11 km. Sedangkan untuk mobil dengan teknologi sedang, seperti Toyota Avanza, satu liter etanol dapat digeber hingga 19 km, jika menggunakan premium hanya mampu mencapai 13 km.
"Begitu juga dengan mobil dengan teknologi terbaru, seperti BMW satu liter mampu melaju hingga 20 km, dan itu menggunakan etanol 50 persen, yakni bahan campuran 50 persen premium dan 50 persen bioetanol. Bisa juga menggunakan 100 persen etanol, namun membutuhkan alat bantu yakni converter untuk mempercepat pembakaran," katanya.
Dalam ekspedisi itu dua unit mobil sengaja dipasang converter untuk mengetahui kemampuan mobil tersebut dengan menggunakan etanol murni 100 persen bahan bakar singkong tanpa tambahan premium. Uji coba 100 persen etanol ini merupakan kali pertama di Asia Tenggara, sedangkan di luar Asia Tenggara baru Jepang dan Brasil.
Menurut Koordinator Tim Ekspedisi Uji Coba Kendaraan, Suryokoco, enam unit kendaran yang diturunkan dalam uji coba dari Jakarta-Surabaya. Dua unit kendaraan yakni Toyota Avanza dan Innova menggunakan etanol 50 persen. satu kendaraan BMW dengan 75 persen etanol. Lainnya, Innova dan Kijang kapsul dengan etanol 100 persen.
"Dari hasil ujicoba sementara Jakarta-Semarang, menunjukkan tak ada bedanya dengan premium biasa. Namun hanya saja pemanasannya yang agak lama, dan ini tengah dalam perbaikan," katanya.
Saat ini tim tersebut juga tengah melakukan penelitian untuk penggunaan sari singkong sebagai bahan bakar mobil balap.
Pihaknya berharap teknologi ini akan memberi banyak manfaat, termasuk kepada para petani. Secara politis jika nantinya program tersebut sukses, maka perlu digagas adanya Dirjen Energi Terbarukan. mun-pu
categoris
- ARTIKEL (5)
- Berita (4)
- Foto Galery (1)
- Kuliner (3)
- Teknologi (13)
- Tips dan Trik (1)
Link Tempat Belajar
Blogroll
Link Free Download
Mobil berbahan bakar singkong
Sabtu, Mei 29, 2010Diposting oleh Ahmad Yazid M di 16.34 0 komentar
Label: Teknologi
Efek Buruk Video Game bagi Anak
Kamis, Mei 13, 2010
VIVAnews - Di balik manfaatnya, perkembangan teknologi justru menjadi ancaman. Seperti kehadiran video game yang dapat menghambat kemajuan akademis anak, terutama laki-laki.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Psychological Science Maret 2010 menunjukkan, konsumsi permainan multimedia secara intens memperburuk kemampuan anak untuk membaca dan menulis. Paparan video game membuat fokus anak terpecah karena sibuk memikirkan cara untuk meningkatkan skor permainannya.
Seperti dikutip dari laman Shine, penelitian tersebut dilakukan terhadap sejumlah anak laki-laki dengan fokus usia 6-9 tahun. Mereka mengonsumsi video game selama empat bulan penuh, tanpa gangguan permainan lain. Anak-anak usia 2-11 tahun diperkirakan memiliki akses terhadap video game sebesar 71 persen.
Hasil penelitian ini menuai kontroversi karena bertentangan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa bermain video game justru bisa menyegarkan pikiran anak-anak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa permainan dapat bermanfaat sebagai alat pembelajaran bagi anak. Tidak hanya meningkatkan pemikiran ilmiah, tapi juga keterampilan motorik halus.
Namun, penelitian yang menyatakan bermain video game bisa membuat prestasi akademik menurun bukanlah yang pertama. Sebuah studi Michigan State University tahun 2009 menunjukkan, anak usia 12 tahun yang bermain video game telah dibuktikan memiliki nilai rata-rata kelas yang lebih rendah. (pet)
• VIVAnews
Diposting oleh Ahmad Yazid M di 16.18 0 komentar
Label: Teknologi
Awas, Blackberry Bikin Lemah Otak
Minggu, April 25, 2010
VIVAnews - Memiliki telepon selular cerdas semacam Blackberry memang menyenangkan bagi sebagian orang. Dengan Blackberry, aktivitas berkirim email, chatting, hingga berselancar di internet bisa dilakukan bersamaan, kapan saja, dan di mana saja.
Namun, tahukah Anda, di balik kemudahan yang diberikan, karakter Blackberry yang mampu membuat penggunanya melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan (multitasking), itu justru berisiko melemahkan kerja memori di otak.
Hal itu terungkap melalui sebuah penelitian tentang kemampuan otak untuk membentuk kenangan yang dilakukan sejumlah ahli syaraf dari New York University (NYU), Amerika Serikat.
Penelitian dilakukan melalui proses pemindaian otak terhadap 16 wanita dan 16 pria berusia 22-34 tahun. Para peneliti menyuguhi sejumlah gambar kepada seluruh partisipan. Sesaat kemudian, mereka mengajukan pertanyaan seputar gambar itu kepada seluruh partisipan.
Partisipan yang banyak pikiran dan terbiasa melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan atau diselang-seling (multitasker) tidak bisa mengingat dengan baik gambar yang sebelumnya ditunjukkan. Dengan kata lain, partisipan yang membiarkan otaknya 'istirahat' memiliki daya ingat lebih tinggi.
"Data kami menunjukkan bahwa jika Anda tidak membiarkan otak beristirahat, biayanya akan 'mahal', karena menghalangi kemampuan otak untuk mengonsolidasikan memori, " kata Lila Davachi, Asisten Profesor dari Departemen Psikologi dan Pusat Syaraf NYU seperti dikutip dari laman MSNBC.
Davachi mengatakan, seorang multitasker seperti terlihat pada para pemegang Blackberry dewasa ini cenderung memaksa otak terus bekerja. Mereka yang tidak pernah lepas memainkan ponsel pintarnya seolah tidak memberi kesempatakn otaknya 'istirahat' untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.
Kondisi terus membuat mereka cenderung memiliki daya konsentrasi yang buruk dan mudah stres. Jadi, belajarlah menggunakan ponsel pintar dengan bijak agar memori Anda tetap bekerja dengan baik.
• VIVAnews
Diposting oleh Ahmad Yazid M di 05.30 0 komentar
Label: Teknologi
Efek Buruk BlackBerry

VIVAnews - Memiliki telepon seluler pintar semacam Blackberry memang menyenangkan. Tak hanya menghibur, tapi juga bermanfaat untuk pekerjaan. Tak heran jika jumlah penggunanya terus meningkat di seluruh dunia.
Namun, di balik nilai positif yang ditawarkan, perangkat canggih itu ternyata menyimpan sejumlah efek buruk yang dapat mengganggu kesehatan penggunanya.
1. Membuat ketagihan
Perangkat telepon seluler pintar ini begitu mudah membuat pemiliknya merasa kecanduan. Studi Rutgers University pada 2006 menyimpulkan, Blackberry dan perangkat serupa memicu kenaikan penggunaan internet yang cukup signifikan, namun berdampak buruk bagi kesehatan mental.
2. Mengganggu tidur
Dengan layanan internet 24 jam, perangkat Blackberry akan bergetar atau berdering setiap saat, ketika ada email dan pesan singkat masuk. Dan setiap saat pula, pengguna akan memainkan Blackberry-nya, termasuk ketika sudah berada di tempat tidur.
Tak jarang pula, pengguna begitu sensitif dengan getar Blackberry, sehingga mudah terbangun dari tidur untuk membuka pesan yang masuk.
Kebiasaan menyanding Blackberry di tempat tidur inilah yang akhirnya membuat tidur tak berkualitas. Dampak selanjutnya, tentu menyerang kesehatan. Bukan rahasia lagi bahwa rendahnya kualitas tidur berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Sebuah penelitian mengungkap, pengguna Blackberry yang memiliki kebiasaan memainkannya sebelum tidur rentan mengalami insomnia, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi. Penelitian yang dilakukan Uppsala University di Swedia menambahkan bahwa radiasi telepon seluler bisa mengganggu aktivitas tidur.
3. Memicu cemas
Memiliki telepon selular cerdas semacam Blackberry memang menyenangkan bagi sebagian orang. Dengan Blackberry, aktivitas berkirim email, chatting, hingga berselancar di internet bisa dilakukan bersamaan, kapan saja, dan di mana saja. Banyak pula yang mengandalkannya untuk urusan pekerjaan.
Studi yang dilakukan MIT's Sloan School of Management pada 2007 mengungkap, penggunaan Blackberry membentuk budaya stres di tempat kerja. Fasilitas internet 24 jam yang dijagokan telepon seluler pintar itu mengacaukan waktu luang pekerja. Tugas dan hal-hal yang menyangkut pekerjaan bisa hadir kapanpun, termasuk kala sedang libur.
4. Melemahkan otak
Di balik kemudahan yang diberikan, Blackberry berisiko melemahkan daya konsentrasi penggunanya. Karakternya yang mampu membuat pengguna melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan (multitasking) cenderung membuat seseorang kesulitan menyerap informasi lantaran fokusnya mudah beralih dari satu hal ke hal lain.
"Sebagai multitasker, otak mereka dibanjiri terlalu banyak informasi, akibatnya mereka tidak selektif lagi untuk memilah informasi yang penting dengan cepat," kata Dr David W Goodman, Direktur Pusat Gangguan Psikologis di Maryland, Baltimore.
Untuk itu, ia menyarankan para pengguna Blackberry agar tak mengaktifkan jaringan internetnya selama 24 jam. “Buat jadwal untuk membuka email, misalnya satu jam sekali, atau dua jam sekali," kata Goodman. "Jangan menjadikan diri sebagai budak getar atau dering Blackberry." (fmn)
Diposting oleh Ahmad Yazid M di 05.25 0 komentar
Label: Teknologi