GURU PROFESIONAL HARAPAN SETIAP SEKOLAH

Rabu, Maret 11, 2009

Oleh : Munawar,SPd,MPd

Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari Guru Nasional atau PGRI(Persatuan Guru Republik Indonesia). Banyak harapan yang muncul dari dunia pendidikan yang ada saat ini. Karena pendidikan merupakan ujung tombak bagi maju atau tidaknya suatu negara. Bila pendidikan maju maka negara juga akan maju, namun sebaliknya bila pendidikan terpuruk maka negara akan mengalami kehancuran. Sehingga wajar bila negara yang maju menitikberatkan pada pendidikan sebagai prioritas utama. Sebagai contoh negara Singapura, ketika memprioritaskan pendidikan pada 25 tahun yang silam dibandingkan dengan bidang yang lain, maka sekarang Singapura merupakan negara yang maju dibandingkan dengan negara-negara didaerah Asia Tenggara. Juga negara Jepang, ketika 1945 negara tersebut di bom atom oleh sekutu. Banyak yang memperkirakan bahwa Jepang akan bangkit butuh waktu sekitar 100 tahun. Namun kenyataan tidak sampai waktu 100 tahun, sekarang Jepang merupakan negara yang maju di wilayah negara-negara di Asia. Ternyata pada waktu itu, setelah Jepang dibom atom, kaisar Jepang memprioritaskan pendidikan dibanding dengan bidang yang lain seperti militer yaitu dengan cara mendata masih berapa guru yang masih hidup bukan menanyakan/mendata militernya masih berapa.


Melihat kenyataan tersebut, sebetulnya Indonesia juga bisa maju seperti negara lain dengan cara memprioritaskan bidang pendidikan dibanding dengan bidang yang lain. Namun karena pemerintah sekarang ini masih memprioritaskan bidang yang lain daripada pendidikan, maka pendidikan di Indonesia masih terpuruk. Sebetulnya pendidikan kita sekarang ini dapat maju, karena pemerintah mulai tahun 2009 menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20%. Bila anggaran tersebut betul-betul dilaksanakan dan digunakan dengan sebaik-baiknya.


Pendidikan tidak terlepas dengan adanya seorang guru sebagai pendidik anak didiknya. Profesi guru merupakan profesi yang mulia yang perlu ditingkatkan profesionalitasnya. Namun di Indonesia profesi guru masih merupakan profesi yang tidak diminati oleh sebagian besar orang yang mencari pekerjaan. Karena gaji guru di Indonesia terbilang sangat kecil dan memprihatinkan kesejahteraannya. Lebih-lebih bagi guru honorer atau GTT, gajinya perbulan jauh dari UMR. Sehingga tidak mengherankan bila orang tidak menyukai profesi sebagai guru. Berbeda dengan negara maju, profesi guru sangat diminati karena profesi guru sangat dihargai dan kesejahteraannya terjamin. Maka tidak mengherankan di negara maju, orang yang pandai atau orang yang rankingnya 10 besar ketika sekolah memilih kuliah pada jurusan profesi guru.


Di Indonesia keadaannya malah sebaliknya. Orang yang pandai lebih memilih profesi selain guru seperti dokter atau ahli hukum yang bisa lebih menjanjikan dari segi penghasilan. Kebanyakan orang yang pandai memilih profesi guru hanya sebagai keterpaksaan bukan dari hati nurani atau panggilan jiwa. Ada yang bilang daripada tidak kuliah, karena tidak diterima pada jurusan yang diinginkan. Sehingga ketika menjadi seorang guru kadang-kadang hanya asal-asalan dikarenakan tidak sesuai dengan keinginan dari hati nuraninya. Seharusnya seseorang yang sudah menjadi guru harus meningkatkan profesionalitasnya, tetapi malah sebaliknya banyak orang yang menjadi guru hanya sebagai kerja sambilan daripada tidak kerja. Juga dikarenakan gaji guru yang masih rendah dan profesi guru belum dihargai sebagai mana mestinya. Mungkin inilah keadaan sebagian besar guru di Indonesia. Dengan kenyataan tersebut muncul pertanyaan: “Sudahkah guru-guru di Indonesia Profesional?


Sebagai seorang guru, selain dituntut profesional juga bisa menjadi teladan bagi anak didiknya. Pada akhir-akhir ini, citra pendidikan kita juga terasa suram dengan adanya beberapa kasus yang mengotori dan menimpa pada dunia pendidikan. Diantaranya kasus asusila yang dilakukan guru dengan guru dan guru dengan anak didiknya, juga perlakuan kekerasan guru terhadap muridnya. Kecurangan dalam pelaksanaan UNAS yang dilakukan oleh oknum pendidik dan juga korupsi yang dilkukan oleh beberapa Kepala Sekolah atau intansi yang berkaitan dengan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kita sudah banyak menyimpang dari tujuan dan perilaku seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru. Seharusnya guru tidak merusak citra pendidikan dan bisa menjadi suri teladan bagi anak didiknya atau profesional. Selain itu perlindungan dalam dunia pendidikan juga masih lemah. Contohnya kasus sekolah-sekolah yang digusur dan guru yang dimutasi gara-gara tidak setuju dengan kebijaksanaan pimpinan atau mengungkap kasus yang menyimpang.


Pemerintah sebagai pemegang otoritas dalam pendidikan, seharusnya mengupayakan agar dunia pendidikan dapat maju. Dengan memperhatikan kesejahteraan para guru dan menghargai profesi guru. Selama ini yang diperhatikan hanya para pejabat tinggi dan wakil rakyat. Berbagai alasan banyak diungkapkan para guru yaitu bagaimana bisa profesional kalau kesejahteraannya saja tidak diperhatikan dan penghasilan para guru masih rendah. Sehingga kadang-kadang guru pilih memilih untuk bekerja yang lain untuk menambah penghasilan daripada meningkatkan profesionalnya sebagai guru. Sebagai contoh pernah ditayangkan dalam stasiun televisi swasta bahwa ada profil seorang guru dan Kepala Madrasah yang mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pemulung. Dia bilang ternyata penghasilan pekerjaan sambilannya malah lebih banyak dibanding menjadi guru dan Kepala Madrasah. Penghasilan menjadi pemulung dalam satu bulan bisa mencapai satu juta, tetapi ketika menjadi guru dan Kepala Madrasah dalam satu bulan tidak mencapai 300 ribu.


Memang tidak semua guru mempunyai alasan yang sama bahwa gaji yang rendah merupakan kendala untuk meningkatkan profesionalnya. Mungkin juga dengan alasan minimnya fasilitas yang dimiliki suatu sekolah untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam mengajar. Sebetulnya kalau hanya karena alasan diatas, seorang guru yang profesional akan merasa bahwa hal ini merupakan tantangan agar bisa lebih kreatif karena dengan kreatif dan inovatif akan bisa membuat alat pembelajaran agar bisa digunakan untuk pengajaran dan melakukan penelitian yang pada akhirnya dapat menambah penghasilan. Memang hal ini tidak mudah bisa dilakukan oleh guru. Tetapi kalau guru mau berusaha, maka tidak mungkin setiap guru bisa melakukan.


Tidak dapat dipungkiri bahwa memang fasilitas pendidikan merupakan sarana yang penting dalam proses belajar mengajar. Berkaitan dengan fasilitas dalam pembelajaran, memang semakin banyak fasilitas pendidikan dan modern yang dimiliki oleh sekolah maka akan menunjang dalam proses belajar mengajar. Sekolah-sekolah yang maju dan bermutu rata-rata fasilitasnya komplit dan mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang saat ini. Sehingga guru dalam mengajar dapat menarik dan dapat mengembangkan kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran.

Guru yang profesional tentu akan membawa perubahan di sekolah dan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang dapat mengembangkan profesinya jelas akan meningkatkan kinerja dan inovasi dalam pendidikan. Sehingga akan membawa nama baik instansi sekolah tempat bekerja. Dengan demikian, guru yang profesional merupakan dambaan setiap sekolah.


Sebetulnya banyak ilmuwan kita yang berada di luar negeri tidak mau pulang ke Indonesia dengan berbagai alasan. Rata-rata alasannya karena di Indonesia ilmunya kurang dihargai dan tidak ada fasilitas untuk mengembangkan ilmunya. Dulu ketika Prof. B.J. Habibi selesai kuliah di Jerman dan disuruh pulang oleh Presiden Soeharto tidak mau. Presiden Soeharto membujuk terus supaya mau pulang ke Indonesia, akhirnya beliau mau pulang dengan syarat agar diberi fasilitas untuk mengembangkan ilmunya. Juga hal ini diakui oleh Prof. Johanes Surya yang mengatakan bahwa banyak teman-teman kita(orang Indonesia) yang belajar di luar negeri tidak mau pulang setelah selesai kuliah. Dengan alasan kebanyakan mereka mengatakan bahwa di Indonesia ilmunya tidak bisa dikembangkan karena tidak diberi fasilitas dan kurang penghargaan terhadap profesi ilmu yang dimiliki oleh pemerintah.


Pemerintah sekarang ini sebetulnya mulai memperhatikan nasib pendidikan. Pada tahun 2009 pemerintah merencanakan anggaran pendidikan 20% dan melalui program sertifikasi dengan memberikan tambahan tunjangan fungsional para guru, diharapkan kedepan guru-guru kesejahteraannya dapat meningkat dan profesionalnya sebagai guru juga meningkat. Yang menjadi pertanyaan, setelah nanti para guru kesejahteraan terpenuhi, akankah guru menjadi profesional? Jawabannya ada pada masing-masing guru. Sebab sekarang ini banyak guru yang sudah PNS dan golongan Iva yang mungkin secara gaji sudah lumayan, namun ketika mau naik pangkat setingkat lebih tinggi merasa kesulitan. Hal ini dikarenakan rata-rata mereka sulit mengembangkan profesinya.

Dari segi anggaran pendidikan dalam APBN pun pemerintah juga masih kesulitan untuk menaikkan menjadi 20% seperti dalam amanat undang-undang pendidikan. Seperti tahun-tahun sebelumnya pemerintah sering memangkas anggaran pendidikan dengan berbagai alasan dan apalagi saat ini dengan adanya krisis global. Mungkinkah tahun 2009 pemerintah dapat melaksanakan rencana anggaran 20% tersebut? Dengan demikian bila pemerintah sulit melaksanakan rencana anggaran 20% tersebut, maka banyak fasilitas pendidikan tidak terpenuhi dan gedung-gedung sekolah yang rusak tidak dapat segera diperbaiki. Kenyataan yang ada saat ini dengan anggaran yang kecil saja, masih banyak yang dikorupsi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehingga pendidikan kita sulit maju dan profesional guru juga masih jauh dari harapan.

Semoga kita semua sadar bahwa pendidikan perlu perhatian semua pihak, agar nantinya pendidikan kita dapat maju dan fasilitas-fasilitas pendidikan dapat terpenuhi. Sehingga guru dapat meningkatkan profesinya dan kesejahteraan yang selama ini belum diperhatikan dapat terpenuhi. Jadi apa yang menjadi harapan semua pihak, agar guru menjadi profesional dapat terwujud. Yang pada akhirnya bila guru-guru menjadi profesional maka dambaan sekolah-sekolah jdapat maju juga akan terwujud. Amin.


Penulis adalah guru di MTs Hasyim Asy’ari Piyungan Bantul

0 komentar:

Posting Komentar